Audiophile Indonesia

Author Topic: Perlukah berkeliling dunia  (Read 698 times)

Offline oracle

  • Contributor
  • ****
  • Posts: 609
  • Gender: Male
Perlukah berkeliling dunia
« on: Nov 27, 2010, 19:09:57 »

Akhirnya sebulan kemarin,aku berkeliling dunia. Sekedar ingin menikmati tempat-tempat (yang diputuskan secara subyektif) terindah di dunia. Kami berjanji selama aku pergi,tidak akan saling menghubungi. bukan apa-apa. Sekedar memberi kesempatan tuk rindu,datang lagi.
Dan aku putuskan akan menuliskan pengalamanku. Untuk dia.
"Sayang, aku sudah sampai di cina. Negeri naga,bambu dan biksu. Aku sedang berdiri di atas tembok besar cina. Lambang perlindungan yang terus menerus. Kokoh. Menaungi. Seperti ini kamu seharusnya. Melindungi aku. Perasaanku. Ugh. Kamu selalu berhasil membuatku kwatir. Ketar-ketir. Bukan aku tak percaya kamu, tapi aku tidak yakin orang-orang itu,yang melihatmu, mampu menahan dirinya untuk tidak merebutmu dari aku,pemilikmu. Maaf.
India,negeri yang indah. Orang-orangnya senang menyanyi dan menari, bahkan saat bersedih. Penuh ekspresi. Seperti Mughal Sh?h Jah?n, anak Jahangir, yang membangun TAJ MAHAL sebagai sebuah musoleum perlambang cinta untuk istri Persianya, Arjumand Banu Begum, juga dikenal sebagai Mumtaz-ul-Zamani atau Mumtaz Mahal. Aku tidak minta taj mahal, sayang. Hanya, ingatkan aku kalau kamu masih sayang aku, karena seringkali aku lupa. Nyanyikan, teriakkan, tarikan, lagu kasih sayang.
Masjid ini ada di Turki. Sebuah lambang keyakinan. Kenyataannya sampai tahun 1453, Hagia Sophia masih berfungsi sebagai gereja katedral (basilika) Bizantium yang dibangun oleh Konstantius, putra Konstantin yang Agung. Tempatnya sama,begitupun bentuknya. Keyakinan kuncinya. Seperti itulah aku. Aku marah, aku sedih, aku sibuk, aku bernyanyi, aku diam, aku sayang. Yang berubah hanya bentukku,tidak rasaku. Kamu harus yakin itu. Jangan sampai rapuh. Ya.
Sayang, aku sampai di Spanyol. Di sebuah benteng, Alhambra namanya. Entah kenapa banteng ini dianggap melambangkan Harga diri. Mungkin karena begitu mewahnya benteng yang menurutku lebih tepat disebut gudang emas ini. Tentang harga diri, sayang, menyayangi bukan berarti "membanting" harga diri. Bahkan mereka tinggal di dua dunia yang berbeda. Harga diri ada di kepalamu,sedangkan menyayangi,duduk tenang di hati kamu. Seperti Yesus,apakah dia sedang membanting, menginjak-injak, meledakkan, bahkan merudal harga dirinya sendiri ketika dia rela disalib demi menebus dosa-dosa umatnya karena dia begitu menyayangi mereka?
Sebenarnya aku ingin melanjutkan perjalananku ini. Eiffel yang angkuh, Piramida yang abadi, pulau Moai yang penuh misteri, Istana Neuschwanstein lambang kebebasan berkhayal. Belum aku singgahi. Tapi aku sudah lelah. Bukannya lupa, tempat-tempat itu malah mengingatkan aku akan kamu. Bukannya tenang, tempat-tempat itu justru mengacak-acak pikiranku.
Bukannya diam, tempat-tempat itu malah berteriak-teriak,sepakat,meragukanmu.
Fiuh..
Kalau kamu nanti baca tulisanku ini, semoga kamu bisa mengerti. Bahwa ini bukan caci maki. Bahwa ini hanya ketidakpuasan seorang kekasih,manusiawi."
Akhirnya aku kembali ke negara garudaku. Aku berjanji menemuinya malam ini. Untuk bercerita,dapat apa saja di belahan lain dunia. Kusiapkan suratku dalam amplop sewarna dunia kami. Dunia biru.
Tepat jam delapan malam,waktu itu hari sabtu. Tidak perlu lama menunggu, dia tiba untuk menjemputku. Aku masuk mobilnya,malu-malu.
Dingin sekali malam itu, tapi rasa rindu,dia dan aku perlahan saling menghangat. Ternyata aku rindu,ya,aku rindu ketidaksempurnaan kekasihku. Aku rindu aroma tubuhnya,aku rindu mengusap rambutnya,aku rindu memegang tangan kirinya sementara tangan kanannya mengemudi,aku rindu melihat wajah sombongnya, aku rindu makian-makian atas macetnya jakarta. Ya, aku rindu.
tidak ada taj mahal disana..
tidak ada tembok besar sepanjang 10.000 Li..
Tidak ada juga piramida..
Hanya ada kami bertiga. kemacetan jakarta, aku dan dia.
Entah..
tapi semuanya terasa.. Sempurna....